Dulu engkau datang padaku
Penuh dengan harapan rasa
Beri aku kebahagiaan semu
Hiasi hari penuh dengan kata
Hari-hari lupakan waktu
Temani kamu dalam masaku
Engkau datang penuhi hati
Tanpa ada yang tersakiti
Engkau ada temani rasa
Hingga jiwapun lupakan raga
Engkau lenyap entah kemana
Hanya bias yang tak pernah ada
Resah hati ...
Resah jiwa ...
resah raga ...
akan kepergiaanmu
Sakit rasa ...
Sakit jiwa ...
Sakit raga ...
temani mimpi tanpa angan
Minggu, 24 Januari 2010
Perjalanan yang terhenti.....(2)
sendiri melalui jalan aspal berlobang untuk dapatkan ungkapan rasa.
meniti panasnya gumpalan hitam tempat ku melangkah untuk capai segala anganku.
ditemani teriknya sang penguasa cahaya bumi yang hanguskan setiap sendi-sendi ragaku, aku tetap berjalan mengarungi rasa yang entah dimana ujungnya.
peluhku keluar pelan dibelahan pipiku bagaikan anak sungai kering yang jauh dari induknya.
aku tetap membawa ragaku mencari tujuan dari mimpiku.
tanpa kusadari setelah berjalan, kulewati berbagai pernak pernik indahnya hidup, pedihnya manusia berlalu lalang mencari apa yang akan mereka gapai.
kuterdiam disudut kota yang berpenghuni sambil merebahkan ragaku duduk beralaskan selokan berbau kotoran sampah yang menyengat hidungku. mencoba meredakan tarikan nafasku yang berat setelah kuberjalan waktu yang lalu.
kupejamkan mata melihat kunang-kunang yang berterbangan dikelopak mataku, seakan aku terbang diantara bintang-bintang dilangit yang terang benderang menerangi hidupku.
tersentak ku bangun dari lamunan mimpiku, ketika seorang sosok nenek yang memintaku untuk memberikan sekeping uang logam buat ia makan, karna sejak pagi ia (nenek) belum merasakan sesuap nasipun masuk kedalam kerongkongan mulutnya. ku masukkan tangan kecilku kedalam saku celana usangku dan mengambil sekeping keberuntungan sisa terakhir yang ku punya. kuberikan keping keberuntunganku dan ia bergegas pergi meninggalkan aku yang duduk di tepi jalan tanpa ada yang menemani.
kuberdiri dari keterpurukan dan berlalu mengikuti langkah kakiku yang memiliki mimpi untuk masa depanku.
kuberjalan dan terus berjalan hingga usia menggerogoti akan raga
.....................
by Andre Gozhonk
kuberjalan dan terus berjalan hingga usia menggerogoti akan raga
.....................
by Andre Gozhonk
Kamis, 21 Januari 2010
" telepon dari ENGKAU..."
Kriiing...kriing...kriing...
Suara yang bermuara dari sudut ruangan, berdering terus menerus membuat gendang telinga risih untuk cepat menggapai sesuatu benda modern yang menyatukan antara mulut bauku dengan indra pendengaranku.
” hallo...selamat mejelang pagi (pukul 01.00) ” kataku sopan, ”hallo...hallo...” kataku lagi berulang kali, tapi ternyata hanya kebisuan yang aku dengarkan, keheningan yang aku rasakan. Kututup gagang alat itu, dan kududuk merebahkan ragaku disofa empuk made italia yang halus dan membuat nyaman ragaku tepat disamping benda yang ganggu tidurku.
Ku pejamkan kedua mataku untuk melanjutkan mimpi indah yang hiasi jiwaku. Hanya detikan waktu yang terus berputar hiasi telingaku dan keheningan dalam kehampaan ruangan ini. Aku lelap dan terlelap...
Kriing...kriing...kriing...
Suara itu lagi tergiang ditelingaku, bergegas aku memegang benda itu dan menempelkan didaun telinggaku, ”hallo...selamat menjelang pagi (pukul 01.15” kataku dengan nada pelan dengan mata masih tertutup yang terbawa hawa kantukku. ”hallo...hallo...” lagi-lagi hanya kebisuan yang ku dengar. Kebisuan yang terlekat ditelingaku membuat ku terbangun dan meletakkan kembali benda modern itu. Ku berdiri dan berjalan menuju ruangan yang terletak didekat tempat ku tertidur. Ku membuka sebuah lemari berhawa dingin hingga tembus dikulit ariku yang tipis. Kuambil benda kaca yang serupa dengan dot bayi punya adikku. Ku teguk isi yang ada dibenda itu, hingga dahaga ku hilang terbawa aliran yang masuk didalam jiwaku.
Kriiing...Kriiing...Kriiing....
Untuk ketiga kalinya benda itu berdering dan membuatku untuk bergegas mendekati benda modern ciptaan Alexander Graham Bell insan tua yang telah hiasi bumi dengan karyanya. ”Hallo...selamat menjelang pagi (pukul 01.35)” kataku dengan nada yang tetap sopan, santun aku menunggu jawab dari penelpon yang hanya diam membisu dalam keheningan. ”hallo...ini siapa” kataku, ”dengan siapa ya...” lanjutku, tapi apa yang ku dapat, tidak ada jawaban dari kebisuan ini. Kututup kembali gagang benda modern itu, dan dalam hati aku bertanya ”siapa yang iseng dihari baru ini ?”, ”siapa ngerjain aku dengan suara bising itu ?”, ”apa tidak ada kerjaan ya...? sipenelepon itu”. Sambil kulanjutkan lagi satukan jiwa dan ragaku dalam keheningan mimpi.Kriing...kriing...kriing... (pukul 02.35)
Sayup kudengar suara itu memanggilku. Ku acuhkan saja suara bising itu berteriak ditelingaku dan memenuhi ruangan ini. Walau suara itu mengganggu mimpi yang bergelut dalam jiwa dan ragaku. Aku tetap pejamkan mataku walau penuh dengan paksaan, hingga keningku bagaikan ombak dilautan yang diterpa badai.
Kriiing...Kriiing...Kriiing...
Suara itu datang lagi, setelah sekian lama tak menghampiri tidurku. Ku terbangun dan jalan tertatih menuju ke benda yang menyatukan mulut dan telingaku. Kuangkat dan kutempelkan ditelingaku, ”hallo... selamat pagi (pukul 04.00)” Kataku sabar. ”hallo...hallo...” mulai kesal, ”Wahai engkau yang disana, kalau tidak niat bicara tidak usah engkau mengganggu tidurku dengan suara bising...” kataku penuh dengan emosi. Seakan aku ingin memakan benda yang kepegang dengan kata-kata yang kasar penuh dengan kemurkaan. Ku letakkan kembali gagang benda itu pada tempatnya dengan membanting hingga terdengar suara keras bagaikan gemuruh dipagi hari.
Kriing...Kriing...Kriing...
Untuk sekian kali dengan waktu yang berdekatan, suara itu menggangguku. Belum sempat kuletakkan ragaku disofa mahal itu, aku begegas menggapai benda modern itu. ”hei...siapa pun kamu, aku tidak peduli...apa kamu bisu...?” kataku keras sambil berteriak. ”Jangan ganggu aku lagi...PAHAM...”lanjutku.
” Selamat pagi, kenapa engkau marah pada KU...” katanya, suara yang pertama kali keluar dari kebisuan. ”apakah AKU tidak boleh menyapamu setiap waktu..” lanjutnya. Aku hanya diam terpaku mendengarkan pertanyaan dari kebisuan. Jantungku seperti tak berdetak, berhenti seketika bagaikan jiwaku sudah mati terlepas dari ragaku.
” engkau selalu memohon kepada KU, disaat engkau penuh dengan cobaan dan kesedihan. Tapi disaat engkau penuh dengan kegembiraan dan ketenangan hati, engkau lupakan AKU ” lanjut suara yang keluar dari kebisingan. Dan Dia menutup semua pembicaraan ini dengan kata terakhir ” AKU mengampuni engkau”.
Aku masih terdiam, bagaikan terpaku di sepotong kayu dan mulutku terikat oleh kain usang yang membungkam suaraku. Seakan aku ingin berteriak, namun hanya air mata yang mengalir disela-sela pipiku dan penyesalan yang mengganggu jiwa dan hatiku. Hanya satu kata yang dapat terucap dari angganku ;
” Kapan aku dapatkan lagi TELEPON dari MU ...”
by Andre Gozhonk
" Machete ... "
Tajam mata indahmu
Ramping tubuh mulusmu
Machete …
Gambarkan dua sisi yang berbeda
Namun ragamu tetap satu
Machete ...
Sakit dan pedih bila engkau menyayat
Membuat insan takut padamu
Machete ...
Daun ratingpun luluh padamu
Daun kering hiasi ragamu
Machete ...
Begitu tajam saat menyentuhmu
Hingga batupun terkikis saat dekatmu
Machete ...
Tajam benar engkau
Hingga jiwa dan ragamu
Pudarkan nafsu setiap insan
Rabu, 20 Januari 2010
" Hilangnya RASA "
Rasa ......
kemana engkau pergi
dimana engkau ada
Rasa .....
engkau pergi entah kemana
engkau ada penuh dengan makna
Rasa .....
pergi dan datang maknai hati
ada dan tiada temani mimpi
Rasa .....
maknai hati penuhi hari
temani mimpi dalam lamunan
Rasa .....
penuhi hari satukan raga
dalam lamunan iringi jiwa
Rasa .....
satukan raga untuk miliki
iringi jiwa miliki raga
Kemanakah Rasa ......?
Dimanakah Rasa ......?
By Andre Gozhonk
" ...jiwa menunggu hati..."
Hening .....
Terdiam dalam dinginnya malam
Duduk merenung akan hidup
Sepi .....
Hening .....
Rebahkan raga dalam rasa
Satukan jiwa satukan angan
Sepi .....
Hening .....
Alunan musik malam temani hati
Lepaskan rasa inginkan mimpi
Sepi .....
Hening .....
Kesendirian sadarkan angan
Capai mimpi akan kehidupan
Angan .....
Mimpi .....
Temani rasa akan hidup
Satukan jiwa menunggu hati
by Andre Gozhonk
Selasa, 19 Januari 2010
" perjalanan yang terhenti...."
Setapak demi setapak langkah kakiku menapak, menit demi menit waktu yang kulalui, hingga rembulan mengintip dari awan gelap seakan takut akan wajahku yang muram bagaikan mendung disiang hari yang penuh dengan kilatan petir menyambar sebatang dahan pohon rindang ditepi jalan depan rumahku.
Ku duduk dipinggiran rumah yang dikelilingi susunan batang kayu tak beraturan setelah ku lelah menghitung langkah kedua kakiku yang kaku. Termenung duduk menatap atap bumi yang sedang bermuram, gelap tanpa titik-titik putih yang bersinar seperti lampu-lampu jalan yang menerangi hati ini. berpikir dan menghayal yang tidak mungkin dapat ku gapai.
Ku rebahkan punggungku disandaran kayu yang telah lapuk dimakan usia, hingga kakiku lurus bagaikan anak panah yang siap lepas dari busurnya. hingga dapat kurasakan aliran darah yang mengalir setelah terbendung oleh ketegangan. sambil melanjutkan menatap awan gelapku yang diiringi suara gelegar petir yang meyala membelah bumi. Ber alasakan kayu rapuh dan beratapkan sambaran petir ku termenung memikirkan rasa yang ada untuk hidupku.
Kemana harus kucari hidupku untuk penuhi rasa, dan sampai kapan pula harus kuarungi jalan untuk dapatkan rasa ?
haruskah kuberhenti untuk diam dan hanya bersandar pada masa yang menegangkan tanpa untuk melanjutkan perjalanan ...?
by Andre Gozhonk
Langganan:
Postingan (Atom)




